Copyright 2019 - www.setiabhakti.id

Implementasi Jangka Pendek

  • Pada tahap awal, kami memilih satu lahan pertanian yang rusak akibat industri batu bata sebagai unit lahan percontohan (pilot project) Agroforestry. Lahan percontohan yang kami gunakan memiliki luas 70 (tujuh puluh) tumbak atau setara dengan 1000 (seribu) meter persegi. 
  • Pada tahap awal, kami harus segera mengumpulkan jerami-jerami dari sisa panen padi di beberapa sawah sebelum dibakar oleh penggarap sawah. Penggarap sawah akan sangat senang bila kami memungut jerami dari sawahnya, karena jerami hanya dianggap sampah tidak berguna oleh mereka. Selanjutnya kami mulai membuat pupuk kompos dari jerami serta limbah ternak sapi dan domba. Kami menargetkan sedikitnya kami berhasil membuat 120 (seratus dua puluh) karung pupuk kompos, yang akan kami gunakan pada lahan Agroforestry. Paralel dengan pembuatan pupuk kompos, kami juga mulai membajak lahan. Umumnya lahan rusak akibat industri batu bata, bertekstur keras dan sangat tidak gembur. Oleh karena itu, diperlukan beberapa kali pembajakan serta pengairan yang cukup. Pada tahapan akhir pembajakan, kami mulai mencampurkan kompos, hingga lahan siap ditanami kacang tanah.
  • Bersamaan dengan penanaman kacang tanah, kami juga menanam pohon Albasiah dan pohon pisang, yang disertai dengan penyuntikan kompos. Penyuntikan dilakukan dengan membuat lubang persegi dengan lebar dan kedalaman setengah meter.  Setelah lubang kami isi dengan kompos dan diurug kembali dengan tanah, baru kami menanam pohon Albasiah serta pohon pisang. Bibit pohon Albasiah dan pohon pisang yang kami gunakan adalah bibit stek, dengan ketinggian rata-rata 1 (satu) meter. Kami menargetkan sedikitnya tertanam 20 (dua puluh) pohon Albasiah serta 30 (tiga puluh) pohon pisang pada lahan percontohan Agroforestry.

 

Implementasi Jangka Panjang

  • Target kami untuk jangka panjang adalah lahan pertanian yang rusak akibat industri batu bata kembali gembur dan subur khususnya pada bagian lapisan atasnya, sehingga produktivitasnya tinggi. Para pemilik lahan, kami targetkan memiliki tanaman keras yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang siap panen untuk 5-7 tahun ke depan, sebagai bagian investasi mereka.
  • Para petani memiliki pengetahuan mengolah limbah pertanian dan peternakan untuk dijadikan pupuk kompos. Hal ini sangat penting untuk menciptakan industri pertanian berbasis organik, untuk menghindarkan ketergantungan petani dari pupuk kimia yang memiliki efek samping.
  • Masalah kerusakan lahan pertanian akibat industri batu bata sebenarnya tidak hanya terjadi di kampung kami. Masalah ini muncul di berbagai daerah pertanian yang menjadi penyokong kota-kota besar di hampir seluruh wilayah Indonesia! Kami berharap, apa yang kami lakukan dapat menjadi solusi, untuk mengantisipasi menurunnya kesuburan lahan akibat merebaknya pembangunan perumahan di kota-kota besar.

 

f t g

 

Yayasan Setia Bhakti Genteng (Yasebha) merupakan sebuah institusi independen yang bergerak pada empat sektor utama: Pendidikan, Lingkungan, Ekonomi, Seni dan Budaya. Di sektor pendidikan, Yasebha memiliki 6 sekolah di Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Empat sekolah di Kabupaten Garut yaitu (1) TK Setia Bhakti, (2) SMP Setia Bhakti Cilawu, (3) SMA Setia Bhakti Cilawu, dan (4) SMK Setia Bhakti Cilawu. Adapun dua sekolah kami di Kabupaten Tasikmalaya yaitu SMP Widya Mukti dan SMK Widya Mukti. Selain pendidikan formal, kami juga bergerak di bidang pendidikan informal antara lain melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) serta berbagai kursus keahlian.

 

Sebagai wujud kepedulian dalam melestarikan budaya luhur dan khasanah seni tradisional Sunda, Yasebha mendirikan Sanggar Seni dan Budaya Setia Bhakti. Sanggar ini menaungi siswa/i dari sekolah-sekolah di bawah Yasebha, termasuk masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan rutin berkesenian, pementasan, termasuk ajang kreasi seni dan budaya.

 

Di sektor ekonomi, Yasebha mendirikan beberapa Toko Bahan Bangunan dan Pembuatan Mebelair di Kabupaten Garut dan Kota Bandung. Yasebha juga mendirikan Pasar Sehat Genteng, sebuah pasar tradisional swadaya pertama di Garut yang memberikan peluang berusaha bagi masyarakat petani lokal berekonomi lemah. Adapun di sektor lingkungan, Yasebha mengajak masyarakat lokal untuk melakukan investasi dengan cara menanam kayu keras. Berbekal dari pengalaman tersebut, cakupan semakin diperluas dengan kegiatan rehabilitasi tanah pertanian yang rusak akibat industri batu bata dengan metode Agroforestry.