Copyright 2019 - www.setiabhakti.id

Proyek kami menggunakan metode Agroforestry yaitu metode penanaman lahan dengan teknik tumpang sari, dimana lahan pertanian selain ditanami tanaman produksi juga ditanami tanaman keras. Metode Agroforestry sama sekali belum dikenal oleh para petani di kampung kami. Pada proyek ini, kami memilih tanaman produksi berupa kacang-kacangan (kacang tanah), karena tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen, sehingga dengan cepat membantu mengembalikan kesuburan tanah. Tanaman tersebut juga memiliki usia produksi yang relatif singkat yaitu tiga sampai lima bulan, sehingga petani pemilik lahan bisa mendapatkan penghasilan dari lahan mereka selagi proyek ini berlangsung.

Tanaman keras sebagai tumpang sari melalui Agroforestry yaitu pohon Albasiah. Pohon tersebut dipilih karena dapat membantu mencegah erosi lahan, serta dahan dan daunnya tidak terlalu rimbun sehingga tidak mengganggu tanaman produksi. Albasiah juga merupakan pohon produksi yang kayunya dapat dijual setelah usia 5-7 tahun sehingga dapat menjadi investasi jangka menengah bagi petani pemilik lahan.  Pada beberapa titik lahan, kami juga menanami pohon pisang, sebagai tambahan ekonomis produktivitas lahan.

Di Kecamatan Cilawu, terdapat limbah ternak dari beberapa peternak sapi dan domba, yang umumnya hanya dibuang tanpa dimanfaatkan. Selain itu terdapat limbah pertanian berupa jerami padi kering, yang umumnya dibakar karena dianggap sampah. Kedua limbah tersebut dapat diolah menjadi kompos dan akan kami gunakan pada proyek Agroforestry kami. Kompos akan dicampurkan pada lahan saat membajak tanaman produksi juga akan disuntikan pada lahan dengan kedalaman setengah meter saat menanam Albasiah dan pisang.

Pada tahap awal, kami melaksanakan proyek ini pada lahan percontohan, karena keterbatasan sumber daya yang kami miliki. Selain itu, karena metode Agroforestry merupakan sesuatu yang baru di Kampung kami, tentu belum banyak petani yang percaya pada metode ini. Penggunaan kompos dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah jerami juga merupakan salah satu langkah baru yang dilakukan di Kampung kami, sehingga terdapat benturan budaya karena umumnya para petani di sini menggunakan pupuk kimia yang beredar di pasaran.

 

f t g

 

Yayasan Setia Bhakti Genteng (Yasebha) merupakan sebuah institusi independen yang bergerak pada empat sektor utama: Pendidikan, Lingkungan, Ekonomi, Seni dan Budaya. Di sektor pendidikan, Yasebha memiliki 6 sekolah di Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Empat sekolah di Kabupaten Garut yaitu (1) TK Setia Bhakti, (2) SMP Setia Bhakti Cilawu, (3) SMA Setia Bhakti Cilawu, dan (4) SMK Setia Bhakti Cilawu. Adapun dua sekolah kami di Kabupaten Tasikmalaya yaitu SMP Widya Mukti dan SMK Widya Mukti. Selain pendidikan formal, kami juga bergerak di bidang pendidikan informal antara lain melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) serta berbagai kursus keahlian.

 

Sebagai wujud kepedulian dalam melestarikan budaya luhur dan khasanah seni tradisional Sunda, Yasebha mendirikan Sanggar Seni dan Budaya Setia Bhakti. Sanggar ini menaungi siswa/i dari sekolah-sekolah di bawah Yasebha, termasuk masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan rutin berkesenian, pementasan, termasuk ajang kreasi seni dan budaya.

 

Di sektor ekonomi, Yasebha mendirikan beberapa Toko Bahan Bangunan dan Pembuatan Mebelair di Kabupaten Garut dan Kota Bandung. Yasebha juga mendirikan Pasar Sehat Genteng, sebuah pasar tradisional swadaya pertama di Garut yang memberikan peluang berusaha bagi masyarakat petani lokal berekonomi lemah. Adapun di sektor lingkungan, Yasebha mengajak masyarakat lokal untuk melakukan investasi dengan cara menanam kayu keras. Berbekal dari pengalaman tersebut, cakupan semakin diperluas dengan kegiatan rehabilitasi tanah pertanian yang rusak akibat industri batu bata dengan metode Agroforestry.